Assalamualaikaum, Wr. Wb.
Hi Kawan-Kawan....!
Selamat datang di blog pertama saya...
Kali ini saya akan menjelaskan sedikit apa itu aliran Formalisme dan aliran Konstrultivisme dalam filsafat Matematika.
Selamat membaca.....
Akar kata filsafat secara etimologi dapat dilacak pada bahasa Yunani phillein yang berarti cinta dan sophia yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat berarti cinta pada kebijaksanaan. Dengan berfilsafat akan diperoleh hakikat segala pengetahuan atau pengetahuan terdalam. Ada empat hal yang mendorong manusia berfilsafat yaitu keraguan, ketakjuban, ketidakpuasan, dan hasrat bertanya (Sukardjono, 2000). Untuk mencapai pengetahuan terdalam maka berfilsafat dilakukan dengan berpikir radikal (sampai ke akar-akarnya), mencari azas/esensi dari setiap realita, memburu kebenaran, mencari kejelasan seluruh realita, serta berpikir rasional, logis, dan sistematis. Agar secara absolut dapat melindungi landasan tersebut dari berbagai macam kontradiksi dan paradok dalam kaitannya dengan kebenaran matematis. Sehingga muncullah aliran-aliran filsafat matematika
1. Aliran Formalisme
Aliran formalisme ini dibentuk sekitar tahun 1910 oleh seorang ahli matematika dari German bernama David Hilbert.
Menurut aliran formalisme, matematika sekedar rekayasa simbol berdasarkan aturan tertentu untuk menghasilkan sebuah sistem pernyataan tautologis, yang memiliki konsistensi internal, tetapi kosong dari makna. Jadi, isi aliran formalisme lebih menekan pada penggunaan sistem lambang formal dalam matematika untuk menterjemahkan seluruh matematika ke dalam sistem formal yang tidak dapat diinterpretasikan (kosong dari arti).
A x B = 20
‘A’ dan ‘B’ merupakan simbol matematika yang tidak memiliki arti, kecuali apabila kemudian ditambahkan konteks dalam model tersebut dimana ‘A’ mewakili panjang suatu bidang datar dan ‘Y’ mewakili lebar suatu bidang datar.
2. Aliran Konstruktivisme
Konstruktivisme
berasal dari kata konstruktiv dan isme. Konstruktiv berarti
bersifat membina, memperbaiki, dan membangun.Sedangkan Isme dalam
kamus Bahasa Indonesia berarti paham atau aliran. Konstruktivisme merupakan
aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan
hasil konstruksi kita sendiri (von Glaserfeld dalam Pannendkk, 2001:3).
Inti aliran kostruktivisme dalam pendidikan matematika adalah memberikan penekanan pada siswa untuk aktif mengembangkan pengetahuannya. Siswa harus bertanggung jawab atas hasil belajarnya, dengan demikian siswa menjadi lebih aktif dan kreatif sehingga mampu berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif mereka. Siswa yang kreative akan terbantu menjadi orang yang kritis dalam menganalisis suatu hal sebab, sehingga mereka selalu berfikir tak hanya menerima saja. Sehingga guru dapat membuat penilaian sendiri tentang bidang pengetahuan yang dapat ditingkatkan lagi. Selain itu, beban guru sebagai pengajar akan berkurang dimana guru lebih bertindak sebagai perantara atau fasilitator.
Adapun kelemahan dari aliran konstruktivisme adalah pihak guru kurang mendukung dalam proses belajar- mengajar sebab, siswa harus menganalisis konsep yang telah di berikan oleh gurunya.
Sekian pembahasan sedikit tetang aliran formalisme dan aliran kostruktivisme.. Bila ada kesalahan dan kekurangan, mohon komentarnya untuk memperbaikinya lebih baik lagi. Saya dengan senang hati menerima komentar dari teman-teman semua... Trima kasih
Adapun kelemahan dari aliran konstruktivisme adalah pihak guru kurang mendukung dalam proses belajar- mengajar sebab, siswa harus menganalisis konsep yang telah di berikan oleh gurunya.
Sekian pembahasan sedikit tetang aliran formalisme dan aliran kostruktivisme.. Bila ada kesalahan dan kekurangan, mohon komentarnya untuk memperbaikinya lebih baik lagi. Saya dengan senang hati menerima komentar dari teman-teman semua... Trima kasih

Tidak ada komentar:
Posting Komentar